PELALAWAN — Jeritan sirine kemanusiaan yang telah bergema selama hampir satu dekade itu mendadak dibungkam secara keji. Sebuah aksi kriminal barbar dan tak berperikemanusiaan mengguncang Kabupaten Pelalawan.
Mobil ambulans gratis yang telah menyelamatkan banyak nyawa dan mengantar tak terhitung jenazah menembus ribuan kilometer, kini terkulai bagaikan bangkai yang ditelanjangi oleh komplotan maling tak berhati nurani.
JendelaNegeri.co berhasil menemui secara langsung pemilik armada kemanusiaan tersebut, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Pelalawan, Baharudin, S.H., M.H. Dengan nada suara penuh kekecewaan namun tetap tegar, ia membeberkan kepedihan atas musibah yang menimpa armada kesayangan masyarakat tersebut.
"Mobil ini bukan sekadar besi tua. Ini adalah saksi bisu tetesan air mata orang-orang kurang mampu yang butuh pertolongan," tegas Baharudin saat diwawancarai secara eksklusif, tak jauh dari posisi bangkai mobil ambulans tersebut, Senin (20/7/2026) sore.
Kisah heroik ambulans ini dimulai pada 2016 silam. Saat itu, krisis armada medis menghantam desa-desa di Kabupaten Pelalawan, khususnya di Kecamatan Pangkalan Kuras.
Tergerak oleh rasa iba melihat masyarakat berjuang antara hidup dan mati karena sulitnya akses transportasi medis, Baharudin mengambil langkah nekat dan mulia.
Ia merogoh kocek pribadinya, mengorbankan seluruh dana tunjangan transportasinya sebagai anggota DPRD Kabupaten Pelalawan selama empat tahun penuh demi menghadirkan satu unit mobil ambulans gratis.
Tanpa memandang suku, agama, maupun latar belakang sosial, siapa saja boleh menggunakannya. Bahkan, tak jarang bahan bakar minyak (BBM) hingga uang saku sopir ditanggung penuh dari kantong pribadinya.
Ambulans ini bukan armada biasa. Lintasannya telah menembus batas provinsi, mulai dari membawa jenazah warga tak mampu menyeberangi pulau menuju Indramayu, Jawa Barat. Menembus pelosok Nias hingga menyisir jalanan keras Medan, Sumatra Utara dan Jambi.
Seiring berjalannya waktu dan makin mandirinya desa-desa dalam memiliki ambulans sendiri, armada itu akhirnya ditarik ke Pangkalan Kerinci. Rencana mulia pun telah disiapkan. Baharudin berniat menghibahkan secara penuh unit ini ke DPD II Partai Golkar Pelalawan agar tetap siaga 24 jam melayani warga perkotaan yang membutuhkan.
Namun, baru berselang tiga hari lalu, kejahatan membakar habis harapan itu. Pelaku nekat menyerbu posisi parkir ambulans di halaman Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana tepat di depan Rumah Dinas Wakil Ketua DPRD di Kompleks Perkantoran Bhakti Praja, Pangkalan Kerinci.
Tanpa belas kasihan, penjarah melucuti komponen mobil secara ekstrem. Pintu-pintu mobil dicopot paksa, dashboard serta radiator diangkut, dan onderdil vitalnya dikuras habis. Kerugian materiil ditaksir sangat besar, tetapi kerugian terbesar adalah terhentinya akses bantuan medis darurat bagi masyarakat yang membutuhkan.
"Ini sangat tidak manusiawi. Kok bisa fasilitas yang dipakai untuk mengantar orang sakit dan jenazah justru dijadikan sasaran penjarahan?" ujar Baharudin dengan nada prihatin.
Kasus kejahatan yang melukai rasa keadilan publik ini telah resmi dilaporkan ke aparat kepolisian. Politisi Golkar itu berharap polisi bertindak cepat memburu dan menangkap pelaku penjarahan yang dinilai telah kehilangan akal sehat dan nurani tersebut.
Meski kondisi mobil ambulans Daihatsu Gran Max bernomor polisi BM 7053 CH kini sangat memprihatinkan, Baharudin menegaskan bahwa jiwa pengabdiannya tidak akan pernah mati.
"Mobil ini akan segera kita bangun kembali. Kita perbaiki sampai normal. Setelah itu, sesuai niat awal, akan kita hibahkan ke DPD II Partai Golkar dan distandbykan di Pangkalan Kerinci. Siapa pun yang butuh, gratis. Niat baik untuk rakyat tidak boleh kalah oleh aksi kriminal," pungkasnya penuh optimisme.***
Penulis: Farikhin

