PELALAWAN – Aliansi Aktivis Nusantara Tunas Bangsa melayangkan ultimatum 5×24 jam kepada PT Inti Indosawit Subur (IIS) Unit Eko II bagian dari Asian Agri Group, usai menggelar aksi demonstrasi besar, Jumat (30/10/2026).
Massa menuntut transparansi status Hak Guna Usaha (HGU), pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), serta realisasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di bidang pendidikan.
?Koordinator Umum Aksi, Josef Sihombing, menegaskan bahwa perusahaan perkebunan tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan tanpa menunjukkan keterbukaan dan akuntabilitas kepada masyarakat.
?"Jangan sampai perusahaan menikmati keuntungan dari sumber daya alam Pelalawan, tetapi masyarakat harus turun ke jalan hanya untuk mempertanyakan kewajiban perusahaan. Kami beri waktu 5×24 jam. Jika perusahaan merasa telah menjalankan seluruh kewajibannya, tunjukkan datanya secara terbuka, bukan sekadar menyampaikan pembelaan," tegas Josef.
?Senada dengan itu, Koordinator Lapangan I, Saipul Anwar, menyoroti status HGU serta persoalan perlindungan lingkungan, khususnya Sungai Kerinci, yang menurutnya wajib dijawab secara transparan oleh manajemen PT IIS.
?"HGU bukan sertifikat kekuasaan mutlak atas tanah. Pasal 6 UUPA menegaskan bahwa setiap hak atas tanah memiliki fungsi sosial. Begitu pula terkait DAS Sungai Kerinci, perusahaan harus mampu menunjukkan bukti pengelolaan lingkungan yang dapat diuji publik. Jangan berlindung di balik legalitas administratif apabila kewajiban substantif di lapangan belum jelas," ujar Saipul.
?Sementara itu, Koordinator Lapangan II, Erlangga Putra, mempertanyakan kontribusi nyata perusahaan dalam peningkatan kualitas pendidikan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
?"CSR pendidikan bukan sekadar panggung seremonial untuk membangun citra perusahaan. Kami menuntut kejelasan program, realisasi anggaran, serta penerima manfaatnya. Jangan sampai kekayaan alam Pelalawan terus dikeruk, sementara masa depan pendidikan masyarakat sekitar diabaikan," ungkap Erlangga.
?Aktivis Nusantara Tunas Bangsa menegaskan, apabila ultimatum 5×24 jam ini tidak direspons secara resmi dan ditindaklanjuti dengan langkah konkret oleh PT IIS, mereka siap menggelar aksi lanjutan (Jilid II) dengan eskalasi massa yang jauh lebih besar di kawasan perusahaan.
?"Jika PT IIS memilih bungkam, kami akan kembali dengan konsolidasi massa yang lebih masif. Kami hadir bukan untuk meminta belas kasihan, melainkan menuntut kejelasan atas kewajiban yang melekat pada izin usahanya. Transparansi adalah harga mati," tutup Josef.
?Secara tegas, Nusantara Tunas Bangsa menyatakan bahwa gerakan ini bukanlah bentuk penolakan terhadap investasi. Langkah tersebut murni upaya pengawalan agar investasi di daerah berjalan adil tanpa mengorbankan hak-hak masyarakat, kelestarian lingkungan hidup, dan tanggung jawab sosial perusahaan.***
Editor: Farikhin

